Archive for May, 2012

My Mother’s Day Story

Posted: May 30, 2012 in Itu Andy

Lama sangat tak menaip apa-apa artikel untuk blog ni. Banyak perkara berlaku. Saya sibuk dengan kerja dan tangungjawab yang perlu diutamakan. Rehat pun tak cukup. Tapi penat, sakit, semua tak rasa bila ingat balik tanggungjawab saya pada mak dan abah terutama sekali tanggungjawab saya kepada adik bongsu saya Muhammad Fiqri Bin Hassan, 23 tahun, yang istimewa kerana beliau seorang yang mengalami Sindrom Down.

Saya bukan datang dari keluarga yang senang. Tak percaya baca ni Erti Sebuah Pengorbanan. Mungkin sebab itu jugalah yang banyak mengajar kami dan menjadikan siapa kami ketika ini. Kami terlampau banyak belajar mengenai nilai-nilai penghargaan terutama sekali nilai-nilai penghargaan kepada sesama manusia. Alhamdulillah.

Perkara ni terjadi pada 13 Mei 2012. Saya hantar SMS kepada ibu saya untuk mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada beliau. Tapi pandangan saya terus jadi amat-amat kabur selepas saya membaca SMS beliau kepada saya.

Apa yang saya rasa pada ketika itu ialah betapa mulianya hati seorang ibu yang langsung tidak memikirkan balasan dari anak-anak beliau melainkan sekadar dengan balasan kasih sayang dan bersyukur kepada Ar-Rahman sedangkan beliau tidak pernah merasa erti kesenangan selama hidup beliau. Harta benda yang anaknya cari tidak pula diminta malahan diingatkan bahawa itu semua untuk keluarga yang bakal dibina nanti.

Satu perkara yang ada dalam kepala saya adalah “Along amat bersyukur Mak ialah ibu yang melahirkan Along…”

Advertisements

Kadang-kadang, baca dan fahami semula buku yang diterjemahkan dalam bahasa yang boleh difahami amat membantu dalam urusan seharian kita. Mardhotillah.

65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

66. Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun”.

70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia (Khidir) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

74. Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

75. Khidir berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

78. Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya.

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Source: Al-Quran, Surah Al-Kahfi (18) ayat 65 – 82

.